Bersihkan Hati dengan Mengingat Allah
Seringkali setan merasuki hati manusia dan menyebabkan penyakit yang mengancam kesehatannya. Ada beberapa jalan yang mungkin dilaluinya sehingga perlu kita waspadai. Lantas, bagaimana mencegah masuknya setan ke dalam hati? Menu apa yang dapat digunakan sebagai terapi bila hati terlanjur teracuni. Hati membutuhkan gerak agar kebugarannya terus terjaga. Terkadang, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tubuh juga membutuhkan stamina hati yang prima. Tanpa niat yang benar, keikhlasan, dan mengikuti tuntunan Rasul, semua amal akan sia-sia. Kehidupan yang abadi adalah kehidupan setelah kematian, yang bahagia-sengsara-nya terkait erat dengan bekal yang disiapkan di dunia. Bagaimana mempersiapkan perjalanan panjang menuju akhirat tersebut? (Kutipan dari buku ‘Tazkiyatun Nafs’ karya Syaikh Ahmad Farid).
Memang pada hakikatnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Ketika kita lalai maka lupalah bahwa kita adalah hamba-Nya, tidak ada apa-apanya dibandingkan Dia. Saat kita mulai lalai, perlahan tapi pasti hati kita akan kotor. Ibarat sebuah tissue yang apabila terkena air, maka meresaplah air tersebut kedalamnya. Begitu juga hati kita, mudah menyerap segala hal buruk yang membuat hati kita penuh dengan kotoran.
Perlu adanya penyucian hati agar kembali bersih seperti awal dulu. Seperti mualaf yang bersih dari dosa. Dan tentunya seiring pembersihan hati harus dibarengi dengan perubahan-perubahan yang membuat diri menjadi lebih baik dan tidak mengulangi dosa-dosa sebelumnya. Penyucian jiwa dalam islam inilah yang kemudian kita kenal dengan Tazkiyatun Nafs.
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (Q.S Ar-Ra’d:28). Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Begitulah kata salah seorang ustadz saat ceramahnya. Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram. Hati memang suatu perkara yang sulit apabila sering melupakan Allah. Seringlah mengingat Allah, karena itu merupakan salah satu cara untuk menyucikan hati, karena ketika kita mengingat Allah maka kita akan malu karena sering berbuat dosa. Teringat sebuah cerita dari salah seorang ustadz.
Hari itu adalah hari terburuk baginya. Seorang ayah dari sebuah keluarga sederhana. Bagaimana tidak, masalah menghampiri dia begitu banyak dan beruntun. Kita lihat betapa mudahnya Allah memberikan ujian kepada hambanya. Pagi hari nya sang anak menghampiri dan mengatakan bahwa ia butuh uang untuk bayaran sekolah anaknya yang sudah menunggak beberapa bulan, dan diancam akan dikeluarkan bila bulan ini tidak bayaran juga. Pembayaran sekolah terakhir adalah besok hari. Beberapa jam kemudian giliran sang istri yang menghampiri, dengan muka marah dan kesal ia mengatakan bahwa ingin diceraikan apabila terus begini kehidupan rumah tangga mereka. Bagaimana tidak, untuk makan saja susah, tetapi sang ayah ini tetap saja tidak mau cari pekerjaan dan tetap nongkrong tidak jelas bersama teman-temannya. Sang istri mengancam apabila besok tidak dapat pekerjaan juga maka ia ingin diceraikan secepatnya. Siang harinya seorang preman datang kerumah mereka untuk menagih hutang kepada dia. Dan mengancam apabila besok tidak bayar juga maka akan diambil rumahnya.
Sebagai seorang manusia biasa sang ayah ini bingung bukan kepalang. Pikirannya sangat buntu, hatinya sangat kotor karena hasil yang dia perbuat sendiri. Tanpa pikir panjang pria ini memutuskan bahwa mengakhiri semua masalah tersebut adalah dengan mengakhiri hidupnya. Ia siapkan seutas tali tambang untuk gantung diri. Inilah akibatnya jika hati kita sudah dipenuhi dengan kotoran dan jarang mengingat Allah. Lihat bagaimana cara Allah menunjukkan jalan kepada hamba-Nya walaupun sang hamba benar-benar tidak mengingat-Nya lagi.
Ketika tali tersebut sudah melintang disepanjang leher sampai ke ujung kepala dan siap sudah untuk menuju ke neraka. Atas izin Allah dengan tidak sengaja mata sang ayah melihat Al-Qur’an yang terletak di meja tidak jauh dari tempat eksekusi bunuh dirinya. Lalu sang ayah teringat masa kecilnya saat mengaji bersama teman-temannya, ia teringat betapa lamanya terakhir ia membuka kitab tersebut. Seakan lupa padahal ia ingin gantung diri, rasa penasaran ingin mengaji lagi muncul. Lalu ia berwudhu karena teringat guru ngajinya pernah bilang bahwa sebaiknya mengaji dalam keadaan sudah berwudhu. Sesudah wudhu hatinya merasa sedikit lebih tenang, dibukanya Al-Qur’an tersebut, dibacanya perlahan-lahan. Beberapa waktu kemudian tak terasa air matanya mengalir, teringat akan dosa-dosanya selama ini, teringat atas kesia-siaan hidup yang dijalaninya selama ini. Akhirnya ia tidak jadi bunuh diri dan memutuskan untuk bertaubat.
Malam harinya ketika hatinya sudah benar-benar tenang, ketika ia berdoa dengan kemantapan hatinya agar masalah yang ia terima cepat terselesaikan. Hatinya sudah bersih akan kotoran, ia tawakkal atas segala kehendak Allah. Lihatlah cara Allah mengabulkan doa dan menyelesaikan segala masalah hamba-Nya, begitu mudahnya.
Menjelang tidurnya sang ayah terdengar suara ketukan keras dipintu rumahnya. Rupanya teman lamanya dating berkunjung serta membawa kabar gembira untuk sang ayah. Ia menawarkan sebuah proyek besar tetapi tempatnya sangat jauh. Sang ayah berfikir bahwa memang gaji dari proyek tersebut dapat menyelesaikan semua masalahnya hari ini, tapi gajinya itu kan bulan depan sedangkan ia butuh esok hari. Dengan bercandanya sang ayah berkata apakah boleh dapet gaji setengahnya dulu aja sekarang, baru ia mau ikut proyek besar tersebut. Tak disangka-sangka teman lamanya menyutujuinya. Terjawablah sudah semua doanya. Begitu singkat dan padat cara Allah menguji hamba-Nya. Semata-mata agar hamba-Nya selalu mengingat-Nya dan senantiasa membersihkan hatinya dari kotoran.
Keesokan harinya sang anak dapat melunasi semua tunggakan sekolahnya dan saat preman kembali menagih hutang maka ia juga dapat melunasi hutangnya. Dan ia juga menepati janjinya untuk mempunyai pekerjaan agar tidak jadi bercerai. Kehidupannya berubah menjadi lebih baik karena mengingat Allah selalu.
Oleh karena itu, senantiasa lah mengingat Allah dan selalu membersihkan hati agar mendapat kebahagiaan dunia akhirat. Otak dan hati pastilah saling berkesinambungan. Jika melakukan sesuatu hanya dengan memakai otak tanpa diskusi dengan hati maka akan menjadi suatu petaka bagi dirinya. Sebaliknya jika melakukan sesuatu hanya dengan hati tanpa berpikir dengan otak maka akan berimbas tidak baik bagi dirinya.
Bogor, 4 Februari 2016
0 comments:
Post a Comment