Tuesday, 20 February 2018

MENGHAFAL AL-QURAN UNTUK KESEHATAN OTAK

Selasa, 5 Desember 2017 14:54

MENGHAFAL AL-QURAN UNTUK KESEHATAN OTAK
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

Al-Quran yang ada dalam hati menjadikan suatu zaman, zaman ini, zaman kita, atau zaman kapan pun, tak berjarak dari zaman Rasulullah Saw. Seorang mufassir dari kalangan tabiin dari Madinah, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi (w. 108 H.) mengatakan: “Barangsiapa yang membaca Al-Quran maka seakan-akan telah melihat Nabi Saw.” Al-Quran yang dalam hati juga sebabkan hati tak berjarak dengan Allah Swt. Ia selalu ingar Allah (dzikir). Hati yang selalu berdzikir inilah hati yang sehat. Dia buta dari kebaikan dirinya. Dan buta dari keburukan orang selainnya. Orang yang hatinya demikian adalah orang yang seluruh tubuhnya sehat.

Dalam Al-Quran misalnya surah al-Nahl ayat 70, manusia, kendati diberikan usia yang panjang dan sehat sepanjang hayatnya, maka tetap akan kembali kepada pase usia Ardzal al-‘Umur. Atau, secara harfiyyah, artinya umur terhina. Yaitu usia pikun yang menyebabkan tak mengetahui lagi apa yang sebelumnya telah diketahuinya. Dalam surah al-Tin ayat 5 disebut Asfala Safilin. Yakni seriring dengan melemahnya fisik, melemah pula akalnya. Keadaanya menjadi kembali seperti bayi sebagaimana dijelaskan dalam surah Yasin ayat 68. Bukan karena sakit, tapi karena usianya yang sudah lanjut. Namun, orang yang hafal Al-Quran, akalnya tidak akan pikun. Ini menunjukan betapa sehatnya orang yang hafal Al-Quran. Yakni, dengan kata lain, jangankan sakit pada fisiknya, akalnya saja tak termakan usia.

Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H.) dalam kitab al-Mushannaf nomor 29956 meriwayatkan dari gurunya yang bernama Abu Khalid al-Ahmar, dari gurunya yang bernama Abu Usamah, dari gurunya yang bernama al-Hakam bin Hisyam, dari gurunya yang bernama Abdul Malik bin ‘Umair. Dia berkata, bahwa ada yang mengatakan: “Orang yang paling kekal akalnya adalah para penghafal Al-Qur’an.”

Lalu, masih dalam al-Mushannaf nomor 29957, tapi kali ini Ibn Abi Syaibah (w. 235 H.) meriwayatkan dari gurunya yang bernama Abu al-Ahwash, dari gurunya yang bernama Ikrimah, murid sekaligus mantan budak Ibnu Abbas. Dia, yakni Ikrimah, berkata: “Barangsiapa yang membaca Al-Quran maka tidak akan dikembalikan kepada umur terhina (ardzalil umur).”

Menurut sebuah penelitian sebagaimana penulis mendengar langsung penjelasannya dari dr. A. M. Iqbal Basri, dokter spesialis saraf dan dosen FK Unhas Makassar saat bersama-sama menjadi narasumber pada Seminar Kesehatan di Unhas yang bertemakan Al-Quran sebagai Pondasi Kesehatan, “orang yang mendengarkan Al-Quran 15 menit secara rutin setiap hari kecerdasan otaknya akan meningkat.” Berarti otaknya sehat. Tampaknya inilah di antara rahmat yang diberikan Allah bagi yang mendengarkan Al-Qur’an dengan tekun dan memperhatikannya dengan saksama saat Al-Quran dibacakan kepadanya. Dalam surah al-A’raf ayat 204, proses mendengarkan Al-Quran yang meningkatkan kecerdasan otak dan mendatangkan rahmat disebut istima’ dan inshat.

Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, ketika membahas hal-hal yang meningkatkan hafalan, disebutkan bahwa membaca Al-Quran dapat meningkatkan hafalan. Bahkan dikatakan: “Tidak ada yang lebih meningkatkan hafalan selain membaca Al-Quran.” Kemudian disebutkan bahwa membaca Al-Quran sambil melihat tulisannya lebih utama karena ada keterangan yang dinisbatkan oleh pengarang kitab Ta’lim sebagai hadits. Yaitu Rasulullah Saw bersabda: “Sebesar-besar amal umatku adalah membaca Al-Quran dengan melihat tulisannya.” Dikisahkan, Syadad bin Hakim bermimpi melihat sebagian temannya lalu bertanya: “Apa yang paling bermanfaat bagimu?” Dia menjawab: “Membaca Al-Quran sambil melihat tulisannya.”

Penulis sering ditanya tentang wirid yang memudahkan menghafal Al-Quran. Jawaban penulis tidak pernah berubah. Hanya satu. Yaitu, wirid yang paling bermanfaat untuk menghafal Al-Quran adalah membaca Al-Quran itu sendiri. Bagaimana tidak sedang membaca Al-Quran dapat meningkatkan kecerdasan otak dan memudahkan hafalan-hafalan ilmu yang lain. Yakni, menghafal ilmu-ilmu yang lain menjadi mudah dan meningkat kekuatannya karena membaca Al-Quran. Sudah barang tentu ilmu yang paling dimudahkan oleh membaca Al-Quran adalah hafalan Al-Quran. Oleh karenanya, misalnya, jika ada orang mengatakan, harus baca wirid ini atau wirid itu sebanyak 10 kali atau 100 kali sebelum menghafal Al-Quran, maka menurut penulis lebih baik membaca ayat yang hendak dihafal sebanyak 10 kali atau 100 kali sebagai wiridnya. Tidak membaca wirid yang lain.

Jika penghafal Al-Quran masih bergantung kepada selain Al-Quran dalam proses menghafal Al-Quran maka akan menyebabkan kegiatan menghafal Al-Quran tidak terasa nikmat melainkan serasa obat yang sangat pahit yang tidak bisa menghindar kecuali harus ditelan. Bahkan bisa jadi terus menerus bertahan dalam rasa itu seperti orang sakit yang ketergantungan kepada obat. Menyetop obat sama dengan mengundang kematian, tapi bertahan dengan obat berarti selamanya menelan pahit. Menghafal Al-Quran yang seperti ini biasanya membuat kepala pusing dan badan panas, sama seperti menghafal teks-teks yang bukan Al-Quran. Adakalanya pula fisik tidak kuat lalu jatuh sakit. Karena over dosis ayat atau efek samping obat ayat.

Silahkan saja menghafal Al-Quran dengan model ini. Asalkan kuat bertahan sampai Allah memberikan kesembuhan pada hafalannya. Tapi, resikonya, tidak akan merasakan nikmatnya menghafal dan perlu waktu yang cukup lama. Untuk merasakan kenikmatannya harus mencari bacaan lain seperti nasehat-nasehat para ulama tentang menghafal Al-Qur’an, buku-buku menghafal Al-Quran, membaca status-status para motivator tahfizh terkemuka di akun-akun media sosial mereka, atau mengikuti pelatihan dan seminar menghafal Al-Quran. Itu pun tak bisa bertahan lama. Bahkan adalakanya kenikmatannya hanya hadir ketika atau beberapa saat setelah mendengarkannya atau membacanya. Lalu, ketika kembali memulai mengafal, maka pahit lagi. Mungkin tulisan saya ini bisa dibaca berulang-ulang untuk dapat mersakan nikmatnya menghafal Al-Quran terus menerus.

Jika penghafal Al-Quran sudah tak bergantung kepada selain Al-Quran dalam proses menghafalnya maka kegiatan menghafal Al-Quran akan terasa sangat nikmat dan menyenangkan. Bahkan lebih nikmat dari hafalnya. Tak perlu motivasi dari nasehat-nasehat, buku-buku, dan status-status motivator di akun media sosial untuk bisa tetap dan bertambah semangat. Karena ayat yang sedang dihafalnya lebih memotivasi dari segala motivasi. Ia lebih menyentuh hati dibanding kata-kata bijak terindah siapapun. Tak perlu lagi lirik lagu dan irama musik. Karena daya tarik hafalannya lebih dari itu. Sekali melihatnya langsung hafal karena penuh kesan pada pandangan pertama. Semakin jauh hafalannya semakin mudah karena hafalan lama selalu menyinari hafalan barunya. Hafalan baru tidak putus hubungan dengan hafalan lama. Bahkan murojaah hafalan lama jadi wirid bagi hafalan baru.

Tidak akan resah, gelisah, dan galau. Justru dapat menolak galau. Tidak akan pusing, panas, atau jatuh sakit. Apalagi dikalahkan rasa malas. Tapi justru menyehatkan dan memeberi semangat. Juga memudahkan menghafalkan ilmu-ilmu yang lain. Badan yang lelah setelah seharian bekerja pun misalnya menjadi segar dan rileks kembali dengan menghafal Al-Quran yang memakai model ini. Mungkin, singkatnya, hanya dua hal yang harus dilakukan agar menghafal Al-Quran terasa nikmat. Yaitu:

1. Faham Keayatan Ayat

Yang dimaksud faham di sini bukan faham terhadap maknanya, terjemahnya, atau tafsirnya. Karena yang tahu dan faham maknanya tak menjamin bisa merasakan nikmatnya menghafal Al-Quran. Kalau faham kepada maknanya menjamin merasakan nikmatnya menghafal Al-Quran maka semua lulusan pesantren atau sarjana-sarjana syariah dan tafsir akan hafal Al-Quran semua. Tapi faktanya tidak. Bahkan sangat sedikit sekali para pengkaji makna Al-Quran yang hafal Al-Quran. Bisa jadi malah dokter atau orang awam yang belum mengerti maknanya hafal.

Yang dimaksud faham adalah benar-benar mengerti bahwa yang sedang dibaca dan dihafalkannya adalah betul-betul firman Allah. Yakin. Sampai mengerti bahwa ayat-ayat yang sedang dihafal adalah satu-satunya alasan kebahagiaan dan keselamatannya di dunia dan akhirat. Inilah yang penulis maksud dengan faham keayatan ayat. Setiap kali membaca ayat, hatinya bergetar. Yang bertambah duluan adalah imannya sebelum hafalannya. Dia sangat mengerti dan merasakan bahwa yang sedang dikumpulkannya dalam hati adalah yang apabila diturunkan kepada gunung maka gunung akan khusyuk dan terbelah karena takut kepada Allah.

2. Menghemat Ayat

Yakni sedikit-sedikit. Pelan-pelan. Tidak tergesa-gesa. Tidak langsung tancap gas. Hilangkan keinginan hafal banyak. Tapi kuatkan keimanan kepada yang sedang dihafal. Walau satu ayat. Atau setengah ayat. Tidak apa-apa. Bahkan, berdasarkan penelitian ilmiah, menghafal selama 30 menit lebih baik hasilnya dari mengafal selama 1 jam. Bukankah hafal satu ayat dengan iman lebih berarti dari pada hafal seluruh ayat tanpa iman. Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim disebutkan: “Hafal dua huruf lebih baik dari membaca dua muatan unta, dan faham dua huruf lebih baik dari hafal dua muatan unta.” Tentu mengimani dua huruf lebih baik dari memahami dua muatan unta.

Jika mencari ayat dalam Al-Quran tentang metode menghafal Al-Quran maka hanya akan ditemukan satu metode saja. Yaitu “jangan tergesa-gesa.” Hanya itu. Tidak ada cara yang lain. Karena inilah cara menghafal para nabi dan kemudian para ulama pewaris para nabi. Mungkin kita mengira cara ini akan menyebabkan menghafal Al-Quran jadi lama. Ini salah. Justru menghafal dengan cara ini menjadikan cepat hafal. Sebaliknya, menghafal dengan tidak menghemat ayat, dibanyak-banyakin, dan biburu-buruin akan menyebabkan menghafal semakin lama.

Juga perlu diketahui lebih mendalam bahwa hafalan Al-Quran itu beda dengan hafalan-hafalan yang lain. Jika hafalan-hafalan lain membutuhkan otak maka hafalan Al-Quran dibutuhkan otak. Jika ilmu-ilmu adalah buku-buku yang disimpan di rak-rak perpustakaan maka hafalan Al-Quran bukanlah salah satu buku di rak-rak itu. Melainkan cahaya di perpustakaan itu yang menyebabkan semua buku terbaca. Jika hafalan Al-Quran disusun di rak-rak perpustakaan bersama buku-buku yang lain maka menjadi sama saja dengan yang lain. Ketahui perbedaan itu. Sehingga kegiatan menghafal Al-Quran menjadi sebuah kegiatan meningkatkan kecerdasan otak dan kesehatan seluruh tubuh, lahir dan batin.

Monday, 5 February 2018

Yuk Bercocok Tanam di Atas Meja Belajar


        Bagi seorang pelajar, baik yang masih usia sekolah dasar maupun usia kuliah, sudah menjadi kewajibannya untuk rajin belajar agar bertambah ilmu nya setiap saat. Bahkan yang tidak bersekolah pun juga wajib menuntut ilmu dengan cara apapun itu. Salah satu sarana yang sering kita pergunakan untuk menunjang proses belajar kita adalah meja belajar.

Meja belajar dapat membantuk kita agar dapat belajar lebih konsentrasi, karena terkadang kalau kita belajar tanpa meja belajar maka relatif akan mudah terganggu konsentrasinya. Entah itu karena mengantuk, posisi badan yang salah, jarak pandang yang tidak baik, dan hal-hal lainnya. Oleh karena itu penting untuk kita agar memiliki meja belajar yang baik demi menunjang proses belajar kita. Salah satu cara nya adalah dengan bercocok tanam di atas meja belajar. Selain menambah keindahan pada meja belajar, bisa juga sebagai penghijauan ruang kamar, serta sebagai sayuran untuk di konsumsi.

Kali ini akan kita bahas tentang bagaimana bercocok tanam di atas meja belajar untuk tanaman ubi. Cukup mudah untuk memulainya, yaitu dengan menyiapkan bahannya seperti botol bekas, ubi ungu atau ubi putih, tusuk sate, dan air secukupnya. Dan menyiapkan alatnya seperti gunting dan pembolong kertas. Hal yang pertama dilakukan adalah membersihkan ubi dari kotoran-kotoran yang menempel, carilah ubi yang ukurannya maksimal sebesar diameter botol bekas tadi. Lalu bersihkan botol bekas dari kotoran-kotoran yang menempel. Kemudian gunting botol bekas menjadi 2 bagian, usahakan menggunakan botol bekas ukuran 1,5 liter agar ubi yang digunakan bisa masuk. Bolongi dua ujung botol pada bagian atasnya (mulut botol) secara tegak lurus. Hiasi botol dengan warna warni ataupun gambar sesuai keinginan.

Kemudian masukkan tusuk sate ke dalam ubi nya dengan cara menusukkannya pada bagian tengahnya sampai tembus. Bagian tusuk sate yg tersisa diantara ubi nya di masukkan ke dalam lubang pada botol yang tadi sudah dibolongi. Posisi ubi harus tepat ya, bagian bakal akar terletak menghadap bawah dan bagian bakal tunas terletak menghadap atas. Lalu masukkan air ke dalam botol tadi hingga menyentuh bagian bawah ubi tadi sekitar 3-5 cm. Selesai.

Tunggu lah hingga beberapa minggu maka akan mulai tumbuh. Perawatannya hanya dengan menambahkan air ke dalam botol jika terlihat sudah berkurang air di dalamnya. Sampai beberapa bulan maka daun ubi dapat di konsumsi sebagai sayuran. Selain itu tanaman tersebut akan terlihat sangat indah sehingga dapat menambah semangat dalam belajar.


Tuesday, 28 February 2017

Tugas Perilaku Konsumen

Perilaku Konsumen

Departemen Fisika (http://physics.ipb.ac.id/)
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (http://fmipa.ipb.ac.id)
Institut Pertanian Bogor (http://ipb.ac.id)

Kuliah Perilaku Konsumen IKK233 (Consumer Behavior Class)

Departement of Family and Consumer Science (www.ikk.fema.ipb.ac.id)
Collage of Human Ecology (www.fema.ipb.ac.id)
Institut Pertanian Bogor (ipb.ac.id)

Nama Dosen:
Prof Dr Ir UJANG SUMARWAN, MSc (www.sumarwan.staff.ipb.ac.id, www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id, sumarwan@mb.ipb.ac.id)
Dr. Ir. Lilik Noor Yuliati, MFSA
Dr. Ir. Megawati Simanjuntak, MS
Ir. Ratnaningsih, MS
Ir. Md Djamaludin, MSc


Ujang Sumarwan. 2011. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Jakarta: PT Ghalia Indonesia.


Perilaku konsumen merupakan semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologi yang mendorong tindakan pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal diatas atau kegiatan mengevaluasi.

Dalam perilaku konsumen terdapat perspektif riset perilaku konsumen diantaranya:
1. Pengambilan keputusan
2. Eksperiensial (pengalaman)
3. Behaviour (pengaruh lingkungan/trend)

Untuk mempelajari perilaku konsumen yaitu dengan menggunakan rumus 4W, 2H. Dimana:
1. What they buy?
2. Why they buy it?
3. When they buy it?
4. Where they buy it?
5. How often they buy it?
6. How often they use it?

Dimensi perilaku konsumen

Konsumen akan melakukan tiga macam perilaku yang terkait dengan barang, jasa, pengalaman, dan ide. Dimensi tersebut yaitu:
1. Bagaimana dia mendapatkan?
2. Bagaimana ia mengonsumsi?
3. Bagaimana menghilangkan sisa konsumsi, atau bagian yang tidak dikonsumsi?

Perilaku konsumen di Dunia
1. Disiplin perilaku konsumen tumbuh dan berkembang karena konsumen memiliki kesamaan perilaku dan juga perbedaan perilaku.
2. Memakai pakaian dan aksesoris yang sama
3. Globalisasi ekonomi
4. Globalisasi

Mengapa kita harus mempelajari perilaku konsumen? Ini karena perilaku konsumen dinamis dan menarik, juga untuk melindungi konsumen. Perilaku konsumen mempunyai proses keputusan yaitu:
1. Pengenalan kebutuhan
2. Pencarian informasi
3. Evaluasi alternatif
4. Pembelian
5. Konsumsi
6. Evaluasi pascakonsumsi

Tidak hanya itu, proses keputusan ini pun diperngaruhi oleh: perbedaan individu, faktor lingkungan, dan juga strategi pemasaran. Peredaan individu ini mencakup perbedaan motivasi, kepribadian, konsep diri, pengolahan informasi dan persepsi, proses belajar, pengetahuan, sikap, dan agama. Faktor lingkungan seperti mencakup budaya, keluarga, kelompok acuan, dan teknologi.

Kebutuhan dan Motivasi

Motivasi atau dorongan muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen. Motivasi dapat berasal dari dalam diri dan luar diri manusia itu sendiri. Motivasi yang berasal dari dalam yaitu untuk mempertahankan hidup, seperti makan, minum, atau disebut dengan primer needs. Sedangkan dari luar (secondary needs) merupakan respon dari lingkungan.

Terdapat pula faktor manfaat:
1. Kebutuhan utilitarian yaitu pembelian karena manfaat fungsional dan karakteristik obyek produk.
2. Kebutuhan ekspresif/hedonik yaitu kebutuhan psikologis untuk memenuhi tuntutan sosial dan estetika. Seperti rasa gengsi, emosi, dan rasa puas

Teori Maslow mengemukakan 5 kebutuhan manusia, yaitu:
1. Kebutuhan fisiologis
2. Kebutuhan rasa aman
3. Kebutuhan sosial
4. Kebutuhan ego
5. Aktualisasi diri (sukses, kuasa)

Thursday, 9 February 2017

Essay Duta Anti Narkoba

“NARKOBA, KAMI DATANG UNTUK MEMBASMIMU !”

Oleh : Muhammad Fakry Alrasyid
NIM : G74140026

Berbicara tentang narkoba, berarti berbicara tentang pemuda. Karena sebagian kecil dari pengguna dan pengedar narkoba adalah kaum muda.

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat atau bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. Semua istilah ini, baik "narkoba" ataupun "napza", mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya.

Kurang lebih 2000 tahun sebelum masehi di Samaria dikenal sari bunga opiun atau kemudian dikenal opium. Bunga ini tumbuh subur di daerah dataran tinggi di atas ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Penyebaran selanjutnya adalah kearah India, China dan wilayah-wilayah Asia lainnya. China kemudian menjadi tempat yang sangat subur dalam penyebaran candu ini. Memasuki abad ke XVII masalah candu ini bagi China telah menjadi masalah nasional. Bahkan di abad ke XIX terjadi perang candu dimana akhirnya China ditaklukan Inggris dengan harus merelakan Hong Kong.

Tahun 1806 seorang dokter dari Westphalia bernama Friedrich Wilhelim Sertuner menemukan modifikasi candu yang dicampur amoniak yang kemudian dikenal sebagai morphin. Tahun 1856 waktu pecah perang saudara di Amerika Serikat. Morphin ini sangat popular dipergunakan untuk penghilang rasa sakit luka-luka perang, sebagian tahanan-tahanan tersebut “ketagihan” disebut sebagai “penyakit tentara”. Tahun 1874 seorang ahli kimia bernama Alder Wright dari London, merebus cairan morphin dengan asam anhidrat. Campuran ini membawa efek ketika diuji coba kepada anjing yaitu anjing tersebut tiarap, ketakutan, mengantuk dan muntah-muntah. Namun tahun 1898 pabrik obat “Bayer” memproduksi obat tersebut dengan nama heroin, sebagai penghilang sakit. Tahun 60-an sampai 70-an pusat penyebaran candu dunia berada pada daerah “Golden Triangle” yaitu Myanmar, Thailand dan Laos. Dengan memproduksi memproduksi 700.000 ton setiap tahun. Juga daerah “Golden Crescent” yaitu Pakistan, Iran dan Afganistan. Dari Golden Crescent menuju Afrika dan Amerika. Selain morphin dan heroin adalagi jenis lain yaitu kokain berasal dari tumbuhan coca yang tumbuh di Peru dan Bolivia. Biasanya digunakan untuk penyembuhan Asma dan TBC. Diakhir tahun 70-an ketika tingkat tekanan hidup manusia semakin meningkat serta teknologi mendukung maka diberilah campuran-campuran khusus agar candu tersebut dapat juga dalam bentuk obat-obatan dan pil.

Hingga kini penyebaran narkoba sudah hampir tak bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Upaya pemberantas narkoba pun sudah sering dilakukan namun masih sedikit kemungkinan untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa, bahkan anak-anak usia SD dan SMP pun banyak yang terjerumus narkoba.

Menurut kesepakatan Convention on the Rights of the Child (CRC) yang juga disepakati Indonesia pada tahun 1989, setiap anak berhak mendapatkan informasi kesehatan reproduksi (termasuk HIV atau AIDS dan narkoba) dan dilindungi secara fisik maupun mental. Serta tercantum juga dalam UU Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 dalam pasal 20 sudah menyatakan bahwa Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.

Jumlah pengguna narkotika di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Bahkan, tahun 2012, Badan Narkotika Nasional (BNN) merilis jumlah pengguna narkotika di Indonesia mencapai 4,5 juta jiwa atau sekitar 2 persen dari total penduduk Indonesia dan hanya 0,047 persennya saja yang menjalani proses rehabilitasi. Dari 4,5 juta jiwa pengguna narkotika, 70 persennya adalah pekerja dan 22 persen pelajar. Meski lebih sedikit, pengguna narkotika di kalangan pelajar dan mahasiswa sangat dikhawatirkan oleh BNN. Untuk tempat rehabilitasi, Kementrian Sosial telah menunjuk 132 puskesmas, 45 rumah sakit dan 40 pusat rehabilitasi sebagai tempat rehabilitasi. BNN sendiri memiliki 133 tempat pusat rehabilitasi yang berada di Badan Narkotika Provinsi (BNP) dan di BNN sendiri.

Walaupun persentase pengguna narkotika di kalangan pelajar terutama mahasiswa lebih sedikit dibanding pekerja, tetapi itulah yang sangat mempengaruhi kemajuan suatu bangsa. Karena apabila mahasiswanya sudah ternoda oleh narkoba, berarti ia tidak bisa memimpin dirinya sendiri. Memimpin diri sendiri saja tidak bisa, apalagi memimpin negara ini di kemudian hari.

Ada banyak penyebab mereka para mahasiswa bisa sampai terjerumus ke dunia narkoba. Pertama, lemahnya keimanan dan ketaqwaan, sehingga mereka tidak punya prinsip dan mudah dipengaruhi oleh orang lain. Kedua, kurangnya perhatian dari orangtua untuk mengontrol kegiatan anaknya sehari-hari. Sehingga mereka mencari perhatian keluar, dan yang seperti itulah menjadi mangsa si pengedar narkoba. Ketiga, lingkungan tempat ia tinggal dan tempat ia menuntut ilmu mendukung menuju kedunia narkoba. Karena disanalah mereka bergaul, bersosialisasi, belajar, dan banyak menghabiskan waktu. Otomatis mereka akan ikut menuju ke dunia narkoba. Dan masih banyak penyebab-penyebab lainnya.

Oleh karena itu, agar tidak terjerumus ke dunia narkoba, kita harus membasminya. Berawal dari peningkatan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Karena, hanya kepada-Nya lah kita menyembah dan memohon pertolongan. Selanjutnya, sering-seringlah berdiskusi atau meminta pendapat kepada orantua atau guru. Agar kita tidak ceroboh dalam mengambil tindakan. Kemudian pintar-pintar lah dalam bergaul dan memilih teman. Bergaul-lah dengan orang-orang yang positif, maka akan tertular pula energi positifnya. Begitupun sebaliknya, bila bergaul dengan orang-orang yang negatif, maka pasti kita akan tertular menjadi negatif pula. Isilah kegiatan sehari-hari dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat.

Apabila kita melakukan hal-hal di atas Insya Allah kita tidak akan terjerumus ke dalam dunia narkoba. Hidup ini adalah pilihan. Kita yang melakukan, Allah SWT yang menentukan, orang lain yang mengomentari. Demi bangsa Indonesia lebih sejahtera, mari kita basmi narkoba.

Essay Bebas

Pesawat Laut Demi Keamanan Berkendara di Laut

Karya: Muhammad Fakry Alrasyid

      Kapal adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut (sungai dsb). Kapal termasuk salah satu transportasi penting di Indonesia, karena kita tahu bahwa Indonesia merupakan bangsa bahari yang 2/3 wilayahnya adalah wilayah lautan. Luasnya wilayah lautan ini akan menimbulkan potensi kecelakaan laut yang lebih besar. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan sistem keamanan pada kapal. Sistem keamanan tersebut dapat berupa pesawat laut.

      Pesawat laut merupakan sebuah kapal yang berbentuk seperti pesawat terbang. Dimana sayap pada pesawat berfungsi sebagai cadik kapal untuk mempertahankan keseimbangan pada kapal. Keluar masuknya penumpang dapat menggunakan tangga fleksibel pada bagian belakang pesawat, yang dapat di arahkan kemana saja tapi tetap kuat dan kokoh. Adanya tangga fleksibel ini memungkinkan keluar masuknya penumpang pada saat pasang surut air laut. Bagian bawah kapal juga terdapat ruang kaca, dimana para penumpang dapat bersantai ria sambil menikmati keindahan bawah laut. Pesawat laut ini lebih ramah lingkungan karena memiliki pengolahan air dan hemat power. Pesawat laut ini berbahan bakar nuklir sehingga kapal bisa berlayar selama 20 sampai 25 tahun nonstop. Pesawat laut juga dilengkapi dengan GPS untuk melacak keberadaan kapal.

      Dengan adanya pesawat laut, diharapkan dapat meningkatkan keamanan dalam berkendara di laut, karena laut akan memberikan manfaat yang sangat vital bagi pertumbuhan dan perkembangan perekonomian Indonesia atau perdagangan pada khususnya. Pesawat laut juga membantu Badan Keamanan Laut untuk mencegah terjadinya kecelakaan di laut.

Tuesday, 9 February 2016

Bersihkan Hati dengan Mengingat Allah

Bersihkan Hati dengan Mengingat Allah


     Seringkali setan merasuki hati manusia dan menyebabkan penyakit yang mengancam kesehatannya. Ada beberapa jalan yang mungkin dilaluinya sehingga perlu kita waspadai. Lantas, bagaimana mencegah masuknya setan ke dalam hati? Menu apa yang dapat digunakan sebagai terapi bila hati terlanjur teracuni. Hati membutuhkan gerak agar kebugarannya terus terjaga. Terkadang, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tubuh juga membutuhkan stamina hati yang prima. Tanpa niat yang benar, keikhlasan, dan mengikuti tuntunan Rasul, semua amal akan sia-sia. Kehidupan yang abadi adalah kehidupan setelah kematian, yang bahagia-sengsara-nya terkait erat dengan bekal yang disiapkan di dunia. Bagaimana mempersiapkan perjalanan panjang menuju akhirat tersebut? (Kutipan dari buku ‘Tazkiyatun Nafs’ karya Syaikh Ahmad Farid).

     Memang pada hakikatnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Ketika kita lalai maka lupalah bahwa kita adalah hamba-Nya, tidak ada apa-apanya dibandingkan Dia. Saat kita mulai lalai, perlahan tapi pasti hati kita akan kotor. Ibarat sebuah tissue yang apabila terkena air, maka meresaplah air tersebut kedalamnya. Begitu juga hati kita, mudah menyerap segala hal buruk yang membuat hati kita penuh dengan kotoran.
Perlu adanya penyucian hati agar kembali bersih seperti awal dulu. Seperti mualaf yang bersih dari dosa. Dan tentunya seiring pembersihan hati harus dibarengi dengan perubahan-perubahan yang membuat diri menjadi lebih baik dan tidak mengulangi dosa-dosa sebelumnya. Penyucian jiwa dalam islam inilah yang kemudian kita kenal dengan Tazkiyatun Nafs.

     “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (Q.S Ar-Ra’d:28). Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Begitulah kata salah seorang ustadz saat ceramahnya. Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram. Hati memang suatu perkara yang sulit apabila sering melupakan Allah. Seringlah mengingat Allah, karena itu merupakan salah satu cara untuk menyucikan hati, karena ketika kita mengingat Allah maka kita akan malu karena sering berbuat dosa. Teringat sebuah cerita dari salah seorang ustadz.

     Hari itu adalah hari terburuk baginya. Seorang ayah dari sebuah keluarga sederhana. Bagaimana tidak, masalah menghampiri dia begitu banyak dan beruntun. Kita lihat betapa mudahnya Allah memberikan ujian kepada hambanya. Pagi hari nya sang anak menghampiri dan mengatakan bahwa ia butuh uang untuk bayaran sekolah anaknya yang sudah menunggak beberapa bulan, dan diancam akan dikeluarkan bila bulan ini tidak bayaran juga. Pembayaran sekolah terakhir adalah besok hari. Beberapa jam kemudian giliran sang istri yang menghampiri, dengan muka marah dan kesal ia mengatakan bahwa ingin diceraikan apabila terus begini kehidupan rumah tangga mereka. Bagaimana tidak, untuk makan saja susah, tetapi sang ayah ini tetap saja tidak mau cari pekerjaan dan tetap nongkrong tidak jelas bersama teman-temannya. Sang istri mengancam apabila besok tidak dapat pekerjaan juga maka ia ingin diceraikan secepatnya. Siang harinya seorang preman datang kerumah mereka untuk menagih hutang kepada dia. Dan mengancam apabila besok tidak bayar juga maka akan diambil rumahnya.

     Sebagai seorang manusia biasa sang ayah ini bingung bukan kepalang. Pikirannya sangat buntu, hatinya sangat kotor karena hasil yang dia perbuat sendiri. Tanpa pikir panjang pria ini memutuskan bahwa mengakhiri semua masalah tersebut adalah dengan mengakhiri hidupnya. Ia siapkan seutas tali tambang untuk gantung diri. Inilah akibatnya jika hati kita sudah dipenuhi dengan kotoran dan jarang mengingat Allah. Lihat bagaimana cara Allah menunjukkan jalan kepada hamba-Nya walaupun sang hamba benar-benar tidak mengingat-Nya lagi.

     Ketika tali tersebut sudah melintang disepanjang leher sampai ke ujung kepala dan siap sudah untuk menuju ke neraka. Atas izin Allah dengan tidak sengaja mata sang ayah melihat Al-Qur’an yang terletak di meja tidak jauh dari tempat eksekusi bunuh dirinya. Lalu sang ayah teringat masa kecilnya saat mengaji bersama teman-temannya, ia teringat betapa lamanya terakhir ia membuka kitab tersebut. Seakan lupa padahal ia ingin gantung diri, rasa penasaran ingin mengaji lagi muncul. Lalu ia berwudhu karena teringat guru ngajinya pernah bilang bahwa sebaiknya mengaji dalam keadaan sudah berwudhu. Sesudah wudhu hatinya merasa sedikit lebih tenang, dibukanya Al-Qur’an tersebut, dibacanya perlahan-lahan. Beberapa waktu kemudian tak terasa air matanya mengalir, teringat akan dosa-dosanya selama ini, teringat atas kesia-siaan hidup yang dijalaninya selama ini. Akhirnya ia tidak jadi bunuh diri dan memutuskan untuk bertaubat.

     Malam harinya ketika hatinya sudah benar-benar tenang, ketika ia berdoa dengan kemantapan hatinya agar masalah yang ia terima cepat terselesaikan. Hatinya sudah bersih akan kotoran, ia tawakkal atas segala kehendak Allah. Lihatlah cara Allah mengabulkan doa dan menyelesaikan segala masalah hamba-Nya, begitu mudahnya.

     Menjelang tidurnya sang ayah terdengar suara ketukan keras dipintu rumahnya. Rupanya teman lamanya dating berkunjung serta membawa kabar gembira untuk sang ayah. Ia menawarkan sebuah proyek besar tetapi tempatnya sangat jauh. Sang ayah berfikir bahwa memang gaji dari proyek tersebut dapat menyelesaikan semua masalahnya hari ini, tapi gajinya itu kan bulan depan sedangkan ia butuh esok hari. Dengan bercandanya sang ayah berkata apakah boleh dapet gaji setengahnya dulu aja sekarang, baru ia mau ikut proyek besar tersebut. Tak disangka-sangka teman lamanya menyutujuinya. Terjawablah sudah semua doanya. Begitu singkat dan padat cara Allah menguji hamba-Nya. Semata-mata agar hamba-Nya selalu mengingat-Nya dan senantiasa membersihkan hatinya dari kotoran.

     Keesokan harinya sang anak dapat melunasi semua tunggakan sekolahnya dan saat preman kembali menagih hutang maka ia juga dapat melunasi hutangnya. Dan ia juga menepati janjinya untuk mempunyai pekerjaan agar tidak jadi bercerai. Kehidupannya berubah menjadi lebih baik karena mengingat Allah selalu.

     Oleh karena itu, senantiasa lah mengingat Allah dan selalu membersihkan hati agar mendapat kebahagiaan dunia akhirat. Otak dan hati pastilah saling berkesinambungan. Jika melakukan sesuatu hanya dengan memakai otak tanpa diskusi dengan hati maka akan menjadi suatu petaka bagi dirinya. Sebaliknya jika melakukan sesuatu hanya dengan hati tanpa berpikir dengan otak maka akan berimbas tidak baik bagi dirinya.

Bogor, 4 Februari 2016

MUHAMMAD FAKHRI ALRASYID © 2008 Template by:
SkinCorner